Sinopsis dan Jadwal Tayang Film Istirahatlah Kata-kata (2017), Kisah Wiji Thukul yang Menyindir Penguasa dengan Syair

Sinopsis Film Istirahatlah Kata-kata 2017 - Film yang diangkat dari biografi maupun kisah nyata tentu memiliki tempat tersendiri di hati para penggemar film. Pada tahun 2017 ini ada sebuah film bergenre drama biografi berjudul Istirahatlah Kata-kata yang mengangkat kisah Wiji Thukul, sosok penyair sekaligus aktivis Indonesia yang kritis dalam menyuarakan ketidakadilan dan ketertindasan di Indonesia pada era Orde Baru.

Film ini rencananya akan dirilis secara resmi di bioskop tanah air pada 19 Januari 2017 mendatang. Mungkin masih banyak generasi saat ini yang belum mengetahui kisah perjalanan seorang Wiji Thukul pada masa Orde Baru. Salah satu aktivis yang lantang menyuarakan demokrasi melalui karyanya, ditengah ancaman yang tidak segan-segan untuk membungkamnya. Tertarik untuk mengikuti kisah Wiji Thukul selengkapnya di bioskop? Simak dulu ulasan film terbaru berikut ini.
Jadwal Tayang Film Istirahatlah Kata-kata 2017
Istirahatlah Kata-kata Movie 2017

Detail Cast & Crew Film  Istirahatlah Kata-kata

Istirahatlah Kata-kata merupakan film garapan sutradara Yosep Anggi Noen yang dalam film ini juga merangkap sebagai produser bersama Yulia Evina Bhaara, Tunggal Pawestri dan Okky Madasari. Yosep Anggi Noen juga bertanggungjawab dalam penulisan naskahnya. Film ini dibintangi oleh beberapa bintang tanah air, diantaranya adalah Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Melanie Subono, Joned Suryatmoko, Eduwart Boang Manalu, dan Daavid Yunan.

Sebelum ditayangkan di bioskop tanah air, film Istirahatlah Kata-kata sudah pernah mengikuti kompetisi Locarno International Film Festival di Swiss pada 3-13 Agustus 2016 silam dengan judul Solo, Solitude. Film ini mendapatkan sambutan yang cukup bagus dalam penayangannya, dan menjadi film ke-2 garapan Yosep Anggi Noen yang diikutsertakan dalam festival film Locarno setelah ‘Vakansi yang Janggal dan Penyakit lainnya’ di tahun 2012.

Sinopsis Lengkap film Istirahatlah Kata-kata 2017

Istirahatlah Kata-kata menceritakan kisah seorang penyair sekaligus aktivis yang sangat kritis dalam menyuarakan ketidakadilan dengan syair-syair puisinya yang begitu lugas. Rezim kekuasaan Orde Baru yang telah memegang tampuk pemerintahan hingga kurang lebih 30 tahun banyak memunculkan berbagai kritik sosial, dan salah satunya dari Wiji Thukul yang aktif menyuarakan kata hatinya yang juga mewakili suara banyak orang yang hidup dalam ketertindasan.

Wiji Thukul hanyalah satu dari sekian banyak aktivis yang berusaha memperjuangkan demokrasi yang pada masa Orde Baru hanyalah sebuah ilusi belaka. Demokrasi adalah barang mahal yang hanya terjebak dalam sebuah gagasan untuk kemudian dibungkam dan dikungung dengan berbagai aturan yang menyulitkan. Namun setelah peristiwa kerusuhan pada 27 Juli 1996 di kantor PDIP yang berada di Jalan Diponegoro, Wiji Thukul masuk dalam daftar tersangka dengan dugaan sebagai salah satu pemicu kerusuhan, dari 14 aktivis yang ditetapkan.

Terkait tuduhan tersebut, Wiji Thukul diketahui melarikan diri ke Pontianak karena tidak merasa sebagai penggerak kerusuhan. Dan dia selalu berpindah-pindah untuk menghindari kejaran pihak berwajib karena statusnya sebagai buronan pada saat itu. Dalam pelariaannya, Wiji Thukul diketahui tetap berkarya dengan puisi dan cerpen-cerpennya namun dengan nama pena yang berbeda. Bahkan dia juga kerap mengganti identitasnya dengan beberapa nama demi mengelabui petugas.

Wiji Thukul menikah dengan Siti Dyah Sujirah atau Sipon dan dikaruniai 2 orang. Jika Wiji Thukul dalam pelariannya selalu merasa terancam dan harus berjuang untuk terus meyelamatkan diri, ternyata hal itu juga tidak berbeda jauh dengan Sipon, istrinya yang tinggal di Solo. Karena di rumah, Sipon yang hidup dengan 2 orang anaknya harus menerima tekanan dari petugas dengan pengawasan yang membatasi kebebasan Sipon dalam menjalani kehidupannya. Koleksi buku-buku milik Wiji Thukul juga disita oleh petugas, bahkan beberapa kali Sipon harus sibuk dengan urusannya di kepolisian untuk menjalani interogasi.

Dalam film Istirahatlah Kata-kata ini, sang sutradara ingin menggambarkan sosok Wiji Thukul sebagai seorang biasa yang memiliki keyakinan bahwa kata-katanya lewat syair dan puisi mampu melawan ketertindasan. Hingga penguasa pun seolah merasa terancam dan wajib untuk segera membungkamnya sebelum kata-katanya semakin mengusik ketidakadilan.

Dalam film garapannya, sutradara kelahiran Jogja ini menghadirkan semua puisi Wiji Thukul karena menurutnya puisi tersebut serupa dengan buku harian yang lekat dengan kehidupan rakyat dalam keseharian. Film ini berkisah tentang kenyataan yang ada di masyarakat, dan bukanlah sebuah drama belaka.
Baca Juga: Sinopsis Film Security Ugal-Ugalan (Drama Movie 2017)
Istirahatlah Kata-kata bisa menjadi sebuah film yang menginspirasi masyarakat, tentang bagaimana harus berpendapat. Mengungkapkan keresahan dengan cara yang lugas namun tetap dalam bingkai kemanusiaan dan intelektualitas tinggi. Bukan sekedar menghujat dan menghasut dengan ujaran kebencian demi mematikan karakter orang lain yang tidak sejalan. Bijak dalam menggunakan kata-kata adalah point penting yang harus dijunjung tinggi. Belajarlah dari Wiji Thukul, demikian ucapan sang sutradara dalam film istirahatlah kata-kata.